Pramuka Wadah Positif dan Penerapannya Oleh Ayu Zanita


Untuk mengurangi kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia, maka anak dan kaum muda didorong menyalurkan waktu luang agar berkegiatan positif. Demikian kutipan dari Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dr Susanto, MA.

Berbicara kegiatan positif bagi anak, maka sekolah adalah tempat terdekat untuk disalurkan. Meski begitu, pendidikan guru dalam kelas tidak menjamin anak berkelakuan baik dan mengurangi tindakan negatif terhadap anak. Maka bersyukurlah, dihadirkan ekstrakulikuler kepramukaan.

Ektrakurikuler sendiri berarti kegiatan diluar program yang tidak  tertulis dalam kurikulum, seperti latihan kepemimpinan dan pembinaan siswa. Dalam kaitannya, pramuka adalah, organisasi untuk pemuda yang mendidik para anggotanya dalam berbagai keterampilan, disiplin, kepercayaan pada diri sendiri, saling menolong dan lain-lain.

Pendirian pramuka, bukan tanpa pondasi, Pramuka diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2012 Tentang Gerakan Pramuka. Namun, sayangnya masih ada pihak-pihak yang menganggap kepramukaan hanya kegiatan bersenang-senang yang identik dengan kemah, api unggun, seragam coklat muda coklat tua, pembayatan, teknik kepramukaan (Tekpram) dan lain-lain.

Mindset atau pola pikir ini dipicu bukan tanpa sebab akan tetapi salah satunya adalag tidak adanya regenerasi materi yang dilatar belakangi pengkaderan yang kuat. Dalam artian pemeran dalam pelaksanaan kepramukaan tidak disekleksi berdasarkan aturan Undang-Undang Kepramukaan.

Salah satu contoh kasus adalah pembina Gugus Depan (Gudep) yang seharusnya dipilih melalui musyawarah tidak dilaksanakan. Melainkan pembina ditetapkan langsung oleh kepala sekolah. Padahal, pemilihan pembina harus melalui Musyawarah Gugus Depan (Gudep). Hal tersebut memicu pelaksanaan yang instan. Termasuk, pembekalan materi kepada peserta.

Selain itu dalam diskusi dengan mahasiswa yang pernah menjadi anggota pramuka mengaku, enggan untuk kembali dalam kepramukaan dengan alasan materi yang monoton atau tidak berkembang. "Materinya (kepramukaan) hanya itu-itu saja. Dari SMP kita hanya belajar pionering, semaphore, PBB, sandi dan morse. Setelah itu kita mengulang lagi diwaktu perkemaham," jelas Oyang, mahasiswa semester akhir di Universitar Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Author
Pito Keraf
Web Developer

Pito Keraf

Perubahan tidak akan pernah terjadi bila tidak ada seorangpun yang memulainya. Kebaikan adalah kunci dari kesuksesan, berbuatlah itu

You May Also Like