admin[at]oranglembata.com
+62 8530 3086 4346

Tak Perlu Membandingkan Siapa Yang Lebih Berkorban

Berkoban dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah menyatakan kebaktian, kesetiaan dan sebagainya. Sebagai contoh misalnya, pengorbanan laki-laki  kepada perempuan yang dia cinta atau sebaliknya, seorang hamba kepada Tuhanya, atau masyarakat kepada pemimpinnya. Mulai dari menuruti semua kemauan hingga penolakan.



Namun, artikel ini bakal mudah diingat jika pembahasannya menyinggung perihal pasang-pasangan. Jodoh memang selalu ribet dan galau jika dipikir. Mulai dari kalangan anak SD sampai orang tua. :-D

Dalam hubungan, tak selalu hadir kondisi yang adem ayem. Persoalan yang menyebabkan perselisihan tak jarang menjadikan hubungan renggang. Tak jarang juga, satu per satu peristiwa besar yang dilalui mulai diingatkan lagi. Mulai dari awal bertemu, pendekatan, pacaran, lalu bertemu keluarga pasangan dan lainnya. Yah, acap kali memang terjadi, kemudian ini dimasukan dalam daftar pengorbanan.

Mengingatkan pasangan mengenai pengorbanan yang pernah dilalui seharusnya menjadi aktivitas wajib jika berselisih. Tetapi perlu diingat, jika momen ini bukan ajang untuk membandingkan siapa yang lebih banyak berkorban.

Dalam kutipan ceramah Prof. Qhuraish Shihab  mengenai Cinta, disebutkan "Semua manusia pasti berbeda. Kalau semua perbedaan pada manusia itu di tonjolkan, bisa jadi gagal hubunganya,"

Sebab itu, orang berkata pada masa pacaran atau pada masa bulan madu semuanya terasa indah. Artinya, pada masa pacaran tidak perlu memperlihatkan semua kekurangan diri. Karena, semua induvidu memiliki kecendrungannya masing-masing. Seperti pemarah, pemalu, peramah, baik hati dll. Bisa jadi, pada saat kecendrungan dirimu diperlihatkan pasangan tidak bisa menerima lalu memutuskan untuk mundur.

Dalam kutipannya yang lain "Tidak ada cinta pada pandangan pertama, sesungguhnya cinta harus di berjuangkan. Maka dari itu, setiap persoalan harus dicari titik temu. Salah satunya mundur selangkah, kemudian penghangatan hubungan. Lalu kembali memupuk rasa,"

Dikutipannya ini, berkaitan dengan mengingatkan kembali mengenai perngorbanan yang pernah dilalui pasangan yang disebut "Mundur selangkah". Artinya pasangan perlu menoleh, mulai dari awal pengenalan hingga klimaks yang terjadi.

Momen ini bertujuan untuk membangkitkan rasa, menimbulkan kenangan, toleransi dan rasa maaf kepada pasangan. Setelah itu, mencari titik temu dari persoalan yang terjadi. Mencari titik temu inilah, salah satu contoh kecil pengorbanan yang dilakukan untuk menyelamatkan kelangsungan hubungan agar tidak gagal.

Namun, perlu diketahui pengorbanan tidak akan terjadi jika tidak ada keinginan atau niat. Seperti pengertiannya, berkorban adalah "Menyatakan kebaktian dan kesetiaan". Menyatakan, itu sendiri adalah menjadikan suatu hal itu nyata.

Maka dari itu,  tidak perlu menyebutkan "Saya sudah banyak berkorban untuk hubungan ini,". Pasalnya, berkorban itu sendiri datang dari niat. Yang artinya, keinginan diri sendiri untuk melakukan tidakan atau perbuatan itu. Walaupun ada faktor yang mendorong timbulnya niat berkorban.

Sering kali kita tak ingat jika, semua tindakan yang diperbuat atas keinganan diri sendiri. Sebagai contoh, saya ingin berlibur sendiri. Jika, niat itu kuat maka berlibur sendiri akan terjadi. Tetapi jika niat itu sebaliknya, maka saya akan memilih berlibur bersama teman-teman, mungkin alasanya lebih seru karena ramai dan sebagainya. Artinya penentu semua sikap dan tindakan adalah diri kita sendiri. Termasuk niat untuk menyelamatkan hubungan.

Maka, jika kamu ingin berkorban maka berkorban saja. Tidak perlu menunggu atau membandingkan "Saya sudah berkorban tapi tidak ada tanggapan," atau "Dia saja tidak berkorban, buat apa saya capek-capek menunggu," Kalau mau berhenti berkorban juga silahkan. Toh, yang punya niat itu kamu!

Penulis : Ayu Zanita