Perampuan Lamaholot dan Gading Sebagai Syarat Menikah


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Gading adalah taring panjang dan tajam pada binatang (gajah, walmur) yang berguna untuk menggali atau sebagai senjata. Biasanya, gading gajah diburu untuk kepentingan komersial dan seni.
Dalam kebinekaan, ada suku dari daratan Sunda Kecil yang menggunakan gading sebagai persyaratan menikah. Daerah setempat menyebut gading sebagai bala dan suku ini disebut Lamaholot.
Lamaholot dalam wikipedia adalah salah satu suku bangsa yang berdiam di dalam wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Suku Lamaholot mendiami sebagian besar wilayah kabupaten tersebut, yang meliputi bagian timur Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Lembata, Pulau Solor, dan Pulau Alor.
Berbicara bala, kata bala sendiri tidak asing ditelinga masyarat dari suku Lamaholot. Khusus bagi para perempuannya.  Pasalnya, para lelaki yang akan menikahi perempuan Lamaholot harus memberikan bala sebagai persyaratan adat untuk menikah.
Terus apa kah ada untung rugi dan dampak penggunaan gading gajah, sebagai syarat pernikahan? Simak ulasan berikut.
***
Beberapa tahun terjun didunia jurnalis tidak dipungkiri banyak momen liputan yang berkesan. Mulai dari ancaman ringan, hingga yang benar-benar terancam.  Dari penyajian tulisan yang biasa, hingga luar biasa dan dari berita politik, hingga kriminal.
Dalam perjalanan sebagai  buruh ketik, ada satu momen yang menjadi catatan dan saya sajikan dalam tulisan ini, ialah gading gajah. Tentu saja, gading gajah ini identik dengan saya sebagai perempuan yang lahir dari suku Lamaholot. Dulu, saya bangga ketika disebut sebagai "anak gading" .  Artinya, saya akan menghasilkan gading ketika ada jejaka yang menyunting saya sebagai istrinya.
Namun, saya mempertimbangkan syarat-syarat ini ketika menemukan kasus penyeludupan gading gajah di tahun 2017. Siapa sangka, persyaratan nikah ini pernah menyeret masyarakat dari suku Lamaholot kedalam jeruji besi.
Pasal yang dikenakan juga bukan main-main, yg saya ketahui diantaranya adalah pelanggaran pasal 5, UU RI No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan serta pelanggaran Undang undang RI No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pasal 21 ayat (2) huruf d jo Pasal 40 ayat (2).
Siangkat cerita, siang itu saya ditelpon petugas Bea dan Cukai (BC) setempat untuk hadiri konferensi pers (konpres). Saya kira konpres kali ini tidak jauh berbeda dengan konpres yang pernah saya liput. Seperti penyeludupan narkotika, senjata api (senpi), miras dll.

Ketika saya naik ke lantai dua BC ada tiga batang gading yang diletakan diatas meja. Saya lalu bertanya ke teman wartawan yang hadir lebih dulu dari saya. "Ini yang mau di konpreskan, bang. Ku kira sabu-sabu,".
Usai bertanya dan mendapat jawaban, mata saya tertuju kepada seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahun berkaos biru duduk disalah satu ruangan gedung BC. Saya hampiri, lalu betanya kepada beliau. "Bapak yang punya gading itu,"
Lalu beliau  menjawab "Iya mbak,"
Tidak sampai disitu, pertanyaan saya mulai beranak. Mulai dari nama hingga asal beliau. Saya agak terkejut ketika dia menjawab "Saya dari Ile Ape, Lembata,". Karena rumpun bahasa kami sama, akhirnya saya memutuskan wawancara beliau menggunakan bahasa daerah.
Terlepas dari itu, memang saya agak kesulitan mengerti krologi kejadian. Pasalnya, bahasa Indonesia beliau kurang jelas  karena bercampur bahasa melayu.
Usut punya usut, rupanya tiga buah gading yang beliau bawa dari Sabah, Malaysia ini salah satunya hasil dari persyaratan nikah anak perempuannya di Malaysia.
"Kalau di Malaysia, paling hanya disimpan saja. Makanya saya bawa pulang, supaya saudara yang mau menikah bisa pakai gading itu. Ini kan sudah adat kita. Rupanya, sampai ke sini saya ditahan. Padahal saya sudah bilang gading itu adat kita untuk menikah. Bukan saya beli," jelas beliau.
Usai mendapat keterangan, saya beralih dari beliau, menuju meja konpres. Tidak lupa saya berterimakasih atas informasi dan mendoakan semoga urusanya segera selesai. Saya agak sedikit iba lalu berpikir kenapa bisa jadi begini.
Kemudian dalam  konpres saya mendapat keterangan, yang menjadi poin penting yaitu, gading itu memang ilegal karena tidak ada surat-surat kepemilikan. Terlebih barang yang dibawa beliau merupakan bagian satwa yang dilindungi. Meskipun alasanya merupakan tuntutan adat, beliau tetap dikenai pasal.
Lalu saya berputar otak, didaerah saya banyak yang menyimpan gading gajah. Termasuk dirumah adat saya, rumah kakek nenek saya. Dan saya pastikan tidak ada surat-surat yang melegalkan kepemilikan gading tersebut.
setelah itu sy sempat berpikir nyeleneh. Kalau menyimpan barang langka yang dilindungi undang-undang berarti orang-orang dari suku Lamaholot melanggar UU Konservasi, lalu bagaimana dengan tuntutan adat??
Dari peroalan tersebut saya merasa gelisa. Lalu saya pertanya kepada orang tua saya. "Pak, kalau saya menikah nanti, calon saya  harus kasih gading,". Bapak jawab "Iya, kalau keluarga minta seperti itu dan adatnya seperti itu,"
Bukan mendapat jawaban yang menenangkan, jusrtru menambah keparnoan saya. Saya berpikir, gading dizaman sekarang sangat sulit dicari, harganya yang fantastik mahal pastinya menyulitkan pihak lelaki.
Terlebih  ketika gading sudah diberikan maka anak gadis menjadi milik pihak laki-laki. Yang dalam prakteknya sekararang hak-hak perempuan diambil. Yang paling buruk adalah bisa terjadi kekerasan dengan alasan persyaratan berupa gading itu telah diberikan.
Saya pernah berbincang dengan kenalan saya. Dia cerita soal pihaknya sebagai laki-laki yang diminta untuk tidak melakukan kekerasan. Lalu, bukan menyetujui dia menjawab "Kami kan sudah kasih gading, yah terserah kami mau buat apa dengan anak perempuan kalian. Mau dipukul atau apa terserah kami. Dia sudah jadi milik kami,"
Saya agak terkejut. Padahal yang saya ketahui, pemberian gading dizaman dulu merupakan bukti keseriusan lelaki kepada sang perempuan. Selain itu juga, persyaratan gading mempunyai makna, jika pernikahan merupakan momen sakral yang dilakukan hanya satu kali seumur hidup, karena usaha untuk menikah tidaklah mudah.
Terlepas dari itu, berawal dari rasa parno, saya mulai mencari tau. Dalam bebedapa tahun terakhir saya mencatat bagian penting, yang kemudian membuat saya memantapkan diri untuk menolak gading sebagai persyaratan kenikah.
Saya pernah mendengarkan ceramah salah seorang cendikiawan muslim Indonesia yaitu Prof. Quraish Shihab. Dalam ceramahnya dia berkata :
 "Adat istiadat memang mengatur adap dan moral masyarakatnya. Namun, jika dalam perkembangan zaman adat itu tidak mendatangkan hal baik, melainkan kebalikannya maka tidak ada salahnya agar tidak dilaksanakan"
Selain itu, dalam islam ada istilah mahar. Mahar memang pemberian wajib untuk kaum perempuan yang di berikan oleh laki-laki ketika melangsungkan akad. Namun, pemberian mahar juga mempunyai syarat. Salah satunya tidak menyulitkan pihak laki-laki.
Lalu bagaimana tanggapan kalian perempuan Lamaholot?? Sudah kah cari tau sejarah, untung rugi penerapan gading sebagai persyaratan menikah?
Untuk mengakhiri tulisan ini, mohon di share dan jangan membully karena perbedaan pendapat. :-)

Author
Pito Keraf
Web Developer

Pito Keraf

Perubahan tidak akan pernah terjadi bila tidak ada seorangpun yang memulainya. Kebaikan adalah kunci dari kesuksesan, berbuatlah itu

You May Also Like