Catatan Kusam Anak Rantau oleh Erneldis Kewa


Senja kian meredup, memanggil datangnya sang malam. Menari di atas remang–remang keramaian kota Yogjakarta. Jingga berlahan menghilang lalu, menuju keperaduannya.
Suasana kini mulai berubah, lampu kamar ku nyalakan, pakaian kering dijemuran ku angkat lalu ku persiapkan makan malam untuk ku santap sesudah mandi. Beberapa temanku mulai beranjak pergi meninggalkan Kos Astri di persimpangan gang Joyonegaran.
Sore tadi mereka datang hanya ingin menjengukku. Entahlah aku pun kurang tau angin apa yang membawa mereka kemari. Karena tidak seperti biasanya mereka datang.
“Ahh. Sudahlah tidak usah dipikirkan”. gerutuku.
Segera aku beranjak ke kamar mandi, menjamah cairan bening yang mengendap dalam bak, sekedar menyegarkan tubuh.  “Segarrr," desahku.  Aroma tubuhku yang tercemar oleh keringat siang tadi kini mulai tercium sedikit wangi walau dengan sabun murahan. Kurasakan sedikit lembut dengan usapan handbody  marina dipermukaan kulitku, serta bau deodoran yang selalu setia menempel ditempatnya. Tak lupa ku merapikan mahkota indah di kepala mungilku meski hanya satu kali sisiran. Usai memanjakan diri dan tidak menunggu lapar, ku nikmati makanan alakadar yang ada didapur, hanya ada sepiring nasi, tahu, dan segelas air putih, itupun sudah mewah bagi anak kos.
Meskipun tiap hari hanya nyaman dengan makanan seperti itu namun tak pernah ku lupa rasa sukur agar selalu ku mencicipi setiap pulang kampus ataupun sebelum berangkat ke kampus. Kadang saat makan aku selalu  teringat petuah Bapak kepada kami anak-anaknya:
“Nak, pergilah ke kota agar kau tau kerasnya dunia dan tak bernasib sama seperti Bapak,"
Hingga kini, kalimat  itu masih terekam dimemoriku. Aku tau dari serangkaian kalimat itu, bapak hanya memiliki harapan baik untuk anaknya. Beliau rela bersahabat dengan mentari dan cucuran keringat yang berlomba-lomba mengalir ditubuhnya. Tidak terlihat guasar yang nampak hanya semangat didadanya.
Sejenak aku merenung dan tanpa sadar pipiku basah oleh tetesan bening dari dua bola mataku. Ahh, rasanya seperti tertusuk duri, menyayat hati jika diingat perngorbanan cinta tulusnya. Walaupun  hanya nasi kosong, atau nasi dan garam aku akan menikmatinya tanpa banyak keluh.
Sambil ku ingat pepatah yang mengatakan “Untuk mencapai sebuah tujuan pasti harus melalui banyak rintangan, maka bersusah-susahlah dahulu lalu bersenang-senang kemudian,". Waktu menunjukan pukul 21:30, namun aku tak ingin lekas tidur. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dan terdengar namaku dipanggil “Ernel," panggil seseorang dari depan pintu.
“Iya mba “ sahutku, lalu beranjak membukakan pintu.
Setelah ku buka pintu kamarku rupanya dia pemilik kos. “Ada perlu apa mbak? Ada yang bisa saya bantu? Mari masuk Mbak," sambutku ramah.  “Nggak usah mbak, mbak hanya mau nanya kapan kamu bayar kos bulan lalu dan bulan ini," “Oh, iya mbak  maaf. Kemarin aku udah hubungi bapak di kampung tapi jawabannya masih sama mbak. Kata bapak belum ada duit. Soalnya kemarin barusan di kirim tiga juta buat bayar SPP sama uang pembangunan mbak, maaf ya mbak”. Jawabku tanpa menatap matanya. Karena memang saat itu, aku agak takut. 
“Iya, nggak apa-apa mba Nel, nanti kalau udah di kirim tolong dikabarin mbak aja ya” jawab beliau.
“Iya mbak, makasi mbak atas pengertiannya,"
“Iya mba Nel, sama-sama, mari mbak,” sambungnya lalu berpamitan.
Kebetulan ibu kos tidak tinggal bersama kami, kalau tak salah belum sebulan mereka pindah dari sini. Bukan karena tak merasa nyaman tetapi karena suaminya ditempatkan ditempat tugas yang baru.  Sehingga, mereka terpaksa harus membeli sebidang tanah yang jaraknya tidak jauh dari tempat kerjanya suaminya untuk ditempati. Meski jarak tempat tinggal kami cukup jauh, namun beliau tetap mengontrol usahanya setiap dua minggu sekali.
Tidak terasa malam makin larut, terdengar jangkrik berkumandang dari kejauhan merayu kelam, menyanyikan lantunan rindu untuk penikmat malam. Dan kuputuskan untuk merebah tubuhku diatas pulau kapuk untuk beberapa jam. Membiarkan segala beban pergi bersama hembusan oksigen yan ku tarik dan ku lepaskan.
Tak lupa kupanjatkan doa syukur atas nikmat dan anugerah dari dia sang pencipta.
***
Pagi menyambut, menaburkan embun cinta di setiap tetesan kelopak bunga ungu yang mulai mekar.  Cahaya matahari perlahan menerobos masuk melalui celah jendela kamarku.
Ting…ting…ting......
Bunyi alarmku yang nyaring sontak membuat ku terbangun. Ku lirik jam, menunjukan pukul 05.30 WIB. Segera ku matikan dering itu dan kurapikan tempat tidur lalu berlalu menuju kamar mandi.
Saat akal dan kedua bola mata selaras meninggalkan kantuk lagi-lagi aku teringat kedatangan pemilik kos semalam. Sambil berharap semoga bapak segera mendapatkan uang dan mengirim untuk membayar tagihan itu.    “Kasihan bapak, kalau saya terlalu memaksa juga tak baik,” gumamku.
Akhirnya aku hanya bisa menunggu dan berharap. Beginilah hidup kalau jauh dari keluarga. Sambil berpikir ku selesaikan mandiku lalu bersiap-siap menuju kampus.  Seperti biasa, kurapikan diri terlebihdahulu. Sesudah itu, kutarik tas diatas meja, dan kuisi buku yang akan ku bawa.
Tepat pukul 07.00 WIB aku sudah menuju kampus. Dari kos ke kampus hanya memakan waktu tujuh menit dengan berjalan kaki. Kata orang perbiasaakan jalan pagi biar tubuh sehat. Hari ini adalah hari sabtu alias akhir pekan, kebetulan hanya dua mata kuliah yang ku ikuiti.
Usai kuliah kuputuskan untuk singgah sebentar ke warung makan, alias angkringan. Karena pagi tadi tak ada makanan satu pun yang kuisi dalam perut.
Kunikmati makanan, meski hanya secuil nasi dan sepotong tahu bakso. Rasanya mendingan, setelah perut ini kuisi. Setelah makan aku kembali ke kos.
Pukul 12.00 WIB aku menapakan kaki dihalaman kos, ku buka alas kaki, tak lupa tas yang bergantung pundakku kemudian ku rebahkan tubuh mungil ini diatas tempat tidur. Menghilangkan sebuah penat bersama teriknya raja siang.
Wajar jadi seorang mahasiswa pasti tak luput dari yang namanya “TUUUUGAS”. Salah satu hal yang harus selalu kita lalui untuk menjadi seorang pamong.
Sementara asyik-asyiknya aku mendengkur tiba-tiba aku dikagetkan dengan bunyi hp yang ku simpan tak jauh dari tempat tidurku. Ternyata telfon dari bapak. Tak mau berlama-lama, ku sambat telepon genggam itu, berharap ada kabar baik.
“Halo, selamat siang bapak”, sapaku dengan semangat.
“Iya halo Ina, bapak tadi pagi sudah kirim uang buat bayar kos, nanti dicek Ina," ungkapnya memberitahu.
“Baik bapak, terima kasih banyak. Bapak sehat,"  tanyaku.
Belum sempat terjawab. Ku dengar dari suara panggilan terputus dari balik telepon.
“Ap mungkin jaringan di kampung kurang baik,” timpalku dalam hati. Padahal rasanya masih ingin bicara dengan lelaki paruh baya itu. Namun, terkadang bapak hanya menelepon dengan tujuan menyampaikan sesuatu yang penting saja, tidak terlalu banyak basa-basi.
Tak menunggu lama sore hari aku langsung ke ATM untuk mengecek kiriman. Setelah memastikan ada saldo dalam rekeningku, aku segera informasikan ke ibu kos. Rasanya sedikit lega. Karena aku salah satu orang yang takut kalau, uang kos belum dibayar.
***
Senja kembali menyapa Yogja  untuk kesekian kalinya. Suara hiruk mulai terdengar lagi. Biasanya aku selalu menghabiskan momen itu diatas genteng. Menunggu sampai tunggang gunung pergi digantikan malam.
Satu kebiasaan yang selalu ku lakukan. Yaitu, aku selalu memotret setiap senja yang ku lihat lalu mengoleksinya. Tak lama terdengar bunyi motor di garasi kos, mungkin ada seseorang yang datang, begitulah firasatku. Aku pun turun untuk menghampirinya, ternyata ibu kos yang datang.
"Selamat sore mbak” , sambil mendekati yang empunya kos.
“Eh, mbak Ernel. Selamat sore juga," balasnya sambil memarkir motor.
Tanpa berpikir panjang segera ku ambil uang dan membayarnya ke beliau. Setelah membayar rasanya beban mulai menipis. Akhirnya aku bisa menikmati malam dengan sebuah puisi kegirangan.  Malampun datang menenggelamkan senjaku, lalu kuputuskan untuk kembali. Karena aku tau rahim kos merindukannku. Kerinduan pada tuan kamar yang segera mungkin ku laksanakan.
Sambil mendengar musik, bernyanyi lalu berbaring adalah kebiasaanku. Kebiasan itu yang ku nikmati di setiap penghujung malam. Sampai mataku terpejam dan tak sadarkan diri.  Tak ada yang bisa menggangguku lagi, untuk sekedar memanggil atau mencubitku. Hal konyol yang sering sahabatku lakukan jika kami tidur sekamar. Rasa katuk ini memang terlalu berlebihan sehingga tak sempat membiarkanku untuk menjadi penikmat malam yang setia. (***)


Penulis : Erneldis Kewa
Editor : Ayu Zanita 

Author
Pito Keraf
Web Developer

Pito Keraf

Perubahan tidak akan pernah terjadi bila tidak ada seorangpun yang memulainya. Kebaikan adalah kunci dari kesuksesan, berbuatlah itu

You May Also Like