Melebarkan Kepercayaan Orang Tua dengan Komunikasi oleh Ayu Zanita

"Kupikir ini penting untuk orang tua membiarkan anaknya tumbuh seperti pohon liar, tidak perlu anak itu dibentuk untuk jadi seperti apa di masa depannya. Biarkan dia memiliki pilihan sendiri,"


Ini adalah pernyataan Pidi Baiq seorang seniman multitalenta asal Indonesia, yang sempat membuat baper remaja dalam karyanya, Dilan. Sebagian besar dari kita mempunyai batas pergerakan, alasannya karena orang tua yang suka menelpon dan meminta anak segera pulang karena jam larut, atau takut anaknya sembarang bergaul dan pikiran negatif lainya. Terlebih jika itu merempuan. 

Di Daerah Lembata, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, adap ketimuran masih terasa. Meski sebagianya lagi sudah memodrnkan diri. Kadang-kadang kondisi ini yang menimbulkan dilema pada orang tua untuk melepaskan anaknya keluar rumah begitu saja. Akibatnya, potensi pada anak kerap gagal dipertontonkan. 

Lalu, bagaimana cara agar orang tua mendukung pilihan dan mempercayai kita? Ini menarik, dan mari kita ulas.. 

*** 

Perbedaan pendapat adalah suatu sikap lumrah. Seperti agama yang mengatakan, "Manusia diciptakan berbeda-beda," tidak tertinggal juga perbedaan pendapat itu sendiri. Perbedaan pendapat itu terkadang membuat renggang hubungan sesama. Antara orang tua, antara kakak adik, antara teman, antara guru dan murid maupun dengan pasangan. 

Saya pun pernah berbeda pendapat dengan orang tua, yang akhirnya membuat hubungan kami renggang hingga berbulan bulan. Namun, bagaimana cara memulai mengakrabkan lagi hubungan itu. Yaitu komunikasi dengan cara yang santun. 

Sebelum memulai komunikasi, terkadang keberanian menjadi gejolak diri. Tetapi harus diketahui, kondisi ini sebenarnya lebih ke sifat gengsi untuk meminta maaf dan memulai. Maka dari itu, emosi perlu ditimbang dengan baik sehingga, tiada kesan egois. 

Banyak diantara kenalan saya yang mengatakan, jika saya adalah anak yang aktif, super sibuk dan berani. Karena keaktifan saya itu, saya sering meninggalkan rumah di pagi hari lalu kembali pada saat malam . 

Orang tua saya awalnya juga merasakan dilema dan gengsi. Alasanya karena saya anak perempuan satu-satunya dan takut memancing percakapan negatif pada lingkungan dan keluarga besar. 

Yah, jelas kompor-kompor atau omong kosong dari orang luar tetap saja terdengar. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi ini bisa teratasi. Hal itu didorong oleh diri saya yang menunjukan jika semua baik-baik saja. Apa saja yang saya lakukan?  Tentu saja komunikasi. 

Contohnya, setiap kali saya keluar rumah, saya selalu pamitan, jika pulang terlambat saya akan beri kabar, lalu terpenting aktivitas yang saya lakukan akan saya jelaskan. Jika perlu, saya akan meminta untuk diantar atau di jemput agar, semakin menambah kepercayaan orang tua. 

Hal ini saya lakukan sejak saya masih sekolah. Peran aktif orang tua untuk mengawasai anak juga penting. Bukan berarti membatasi yah!! Meski begitu, perbedaan pendapat tentu saja tetap terjadi. Yah kan, lumrah.. :-) 

Berlanjut, saya pernah mengambil keputusan besar dalam hidup saya. Yaitu memilih pasangan yang beda agama. Awalnya, saya merasa akan ditentang habis-habisan. Yah, karena memang dampaknya bukan hanya pada orang tua, tentu saja ke keluarga besar. Pada akhirnya itu terjadi. 

Dari kejadian itu, tentu saja hubungan saya dan orang tua renggang. Cukup lama. Namun, saya berusaha untuk menyingkirkan gengsi lalu memulai berkomunikasi lagi. Caranya,  memulai percakapan dan memberikan argumen untuk meyakinkan. Ketika berkomunimasi dan memberikan pendapat, yang diperlukan adalah kepercayaan diri dan emosi yang stabil. 

Kalau bicaranya grasak grusuk, menjadikan suasana tegang tentu saja sulit untuk mengambil kembali hati orang tua. Bagi saya, keridaan orang tualah yang memuluskan usaha saya. Begitulah, hingga membawa saya bercakap-cakap dengan "Sesepuh" perihal jodoh beda agama itu. 

Tak disangka-sangka rupanya tidak ada pertengkaran dan perbedaan pendapat yang menimbulkan pembahasan itu alot. Hati lega pastinya. Kala hati lega pasti banyak pekerjaan yang dikerjakan dengan mulus tanpa merasa gunda. Bagi saya kondisi ini membuat saya lebih produktif. 

Ketidak khawatiran dan kepercayaan dari orang tualah yang sebenarnya membuat saya berani memulai. Lalu, semakin berani jika orang tua tidak membatasi saya harus berkembang dibidang mana. 

Perlu diingat bahwa kebahagian itu hak dan tangung jawab setiap individu bukan teman, pasangan, bahkan orang tua sekalipun. Jika dalam pilihan itu terkandung kebahagian dan keyakinan keberhasil maka tidak ada salahnya memilih. Biar semua mengalir begitu saja sesuai usaha dan potensi diri. 

Nah, kesimpulanya semakin besar kepercayaan dan dukungan, semakin melebar juga semangat untuk berkarya. Maka setiap masalah harus dikomunikasikan. Komunikasinya dengan santun, jangan grasak grusuk... :-)

 (***)

Author
Pito Keraf
Web Developer

Pito Keraf

Perubahan tidak akan pernah terjadi bila tidak ada seorangpun yang memulainya. Kebaikan adalah kunci dari kesuksesan, berbuatlah itu

You May Also Like