Cerpen : Juru Alam Oleh Ayu Zanita - Bagian I

Nanti, ketika semua tidak sempurna manusia akan sadar
Kecerobohan, keangkuhan dan sifat tamak menghancurkan kesempurnaan
Pepohonan dijajak habis, laut dijadikan tempat sampah, ladang diacuhkan hingga hangus
Melempar kesalahan adalah pekerjaan paling naif dan munafik, namun mengasikan beberapa
Kalau semua tak sempurnah lagi, lalu kita bisa apa??
***
Perjalanan kali ini biasa saja. Belum ada yang menarik. Kepala perempuan itu berpaling dari kanan ke kiri. Merasakan hembusan angin sekaligus memanjakan mata sayupnya.
Perempuan berambut ikal yang selalu diikat memerkan leher jenjang, yang kulitnya bekerut ketika memaling. Perempuan itu selalu bersemangat membuntut rombongan relawan setiap melakukan mitigasi.
Perjalanan hingga sampai ke desa tujuan memakan waktu sekitar 2 jam. Lumayan, membuat bokong keram. Namun, bagi mereka itu sudah biasa.
"Ta, tunggu," sayup-sayup suara perempuan lain meneriaki Ajita.
Langkah kakinya semakin dekat, lalu muncul sosok perempuan berparas manis, bertubuh kecil, beramput pendek. Azura namanya, teman Ajita.
Saling menyapa dan basa-basi keduanya lalu berjalan beriringan menghampiri balai desa. Tempat kumpul sebelum melakukan aktivitas memang disana, berkumpul bersama warga setempat dan pemerintah desa. Kata orang "Tak kenal maka, tak sayang". Mungkin ini salah satu praktik pengenalan.
Di desa memang seperti itu, tamu disambut dengam ramah, ketika berpapasan selalu menyapa, ketika pulang menyisahkan haru dan oleh-oleh. Warga desa memang mengasikan. Adap ketimuran masih diupayakan laris untuk dipraktik.
"Kapan ada kegiatan baru. Mau bakti terus. Buat sesuatu yang barulah. Masalah sampah tidak akan selesai kalau kita bakti, lalu dikotori lagi sama masyarakat" celutuk Azura ketika sampai didepan balai desa.
Sambil menghampiri kursi dan menghempaskan bokong, Ajita menyahut "Nanti, tenang saja. Pelan-pelan kita bisa,"
Azura duduk disamping kiri Ajita, disebelah kanan Ajita, ada perempuan paru baya menggunakan kerudung yang dilingkari pada lehernya. Ajita menyapa, lalu disamput senyum oleh perempuan itu. Usianya sekitar 80-an tahun. Meski senja, namun wajahnya asri.
Percakapan ringan mulai dibuka Ajita. Perempuan berkulit sawo matang ini memang seperti itu setiap kali bertemu orang baru. Menurutnya, setiap orang memiliki ilmu dari karakter mereka. Maka perlu dipelajari dengan cara berdiskusi, basa-basi atau ngobrol ringan. Walaupun hanya sekedar tahu nama mereka.
"Saya Ajita. Oma warga desa ini yah?" Ajita membuka percakapan.
"Iya non, betul. Nona yang datang dari kota? ," sambung wanita itu dengan pertanyaan.
"Iya, Oma. Betul, kami yang mau tanam bakau nanti," timpalnya.
"Iya, waktu muda memang harus banyak beraktivitas seperti ini.  Sudah tua, mau apa-apa banyak tidak enaknya. Mau duduk saja tidak enak," lanjut wanita itu dengan suara berat lalu diikuti ketawa ringan.
Wanita yang dipanggil Oma Suk oleh warga desa ini rupanya istri veteran. Nama beliau Sukma, beliau menghabiskan masa tua setelah peninggalan suami beberapa tahun silam di desa ini. Oma Suk juga suka beraktivitas. Namun sayang, orang tuanya melarang dengan alasan beliau perempuan.
"Dulu waktu zaman penjajahan, semua lelaki dicari untuk bekerja. Sedangkan yang perempuan bersembunyi. Orang tua, khawatir sekali dengan saya. Maklum anak perempuan satu-satunya. Itu juga alasan saya dilarang beraktivitas untuk orang banyak," cerita Oma Suk, sambil mengulas balik mermori waktu itu.
Meski bigitu, setelah menikah anak-anak Oma Suk selalu diajarkan untuk peduli terhadap lingkungan. Membantu orang-orang yang membutuhkan. Semua diajarkan sejak dini. Yang menawan adalah, tiga anaknya adalah perempuan yang kini menetap diluar daerah.
Asik bercerita, terdengar bising-bising. Satu persatu kursi mulai bergeser dan bunyinya berhasil menimbulkan suara yang tidak enak. Orang-orang dalam ruangan bergegas keluar karena penasaran.
Kepulan asap hitam berhasil memanggil rombongan masyarakat desa dan relawan. Hanya beberapa menit berdiri dimuka pintu semua langsung berlarian menuju lokasi. Ajita pun ingin berlari ke lokasi. Namun gadis manis itu teringat, ada kelompok rentan di balai desa.
"Oma Suk," ingat Ajita.
Diapun kembali untuk menengok wanita, berusia hampir seabad itu.  Matanya tajam mencari sekeliling ruangan. Sukurnya Oma Suk di temukan diujung ruangan sambil menghadap keluar, tempat kepulan asap itu muncul.
"Hutannya terbakar yah," ungkapnya setelah dihampiri Ajita.
Raut muka Oma Suk berubah menjadi sendu. Sebagai tanda hatinya tersayat. Sebelum Ajita menimpali, beliau menyambung.
"Saya pernah membayangkan hal ini terjadi. Tidak menyangka kalau sekarang ada didepan mata saya. Warga sering membakar sembarangan. Membuang puntung rokok juga sembarangan," ungkapnya bernada sesal.
Ajita lalu mendekat, meletakan tangannya di dua pundak yang telah rentan dan lembek itu. Mengusap lembut untuk menenangkan. "Warga sedang berusaha memadamkan apinya. Oma, tidak perlu khawatir," ungkap Ajita.
"Kasihan, itu tempat main saya. Dulu lahan itu rimbun. Perlahan kini mulai hilang kesuburannya. Saya sedih teringat masa kecil saya, yang saya habiskan ditempat itu,"
Ajita diam, dirinya soleh-olah merasakan apa yang di rasakan Oma Suk. Tidak dipungkiri, lokasi yang dimaksud memang rawan kebakaran. Dari bisik-bisik orang yang menyangsikan, ada orang yang membuang puntung rokok, penyebab kebakaran dan kepulan asap itu.
"Seharusnya warga jeli melihat kerawanan ini. Saya sudah ingatkan beberapa kali. Tapi tidak dihiraukan. Kalau semua menjaga bisa dihindari,"
tambah beliau.
Ajita tak dapat berbicara banyak. Yang terbesit adalah kerinduan Oma Suk terhadap desa yang asri dan penyesalan lahan yang terbakar.
"Maklum Oma, masyarakat desa banyak yang belum paham soal itu. Makanya kurang perhatian," lanjut Ajita.
Seolah-olah tidak menyetujui pernyataan Ajita. Oma Suk pun menimbali. "Seharusnya warga desalah yang duluan sadar. Ini tempat kami, rumah kami, tempat kami cari makan dan hidup. Bukan orang lain yang duluan menyadari lalu mengingatkan," timpal beliau.

bersambung

Author
Pito Keraf
Penulis Senior

Pito Keraf

You May Also Like