Tenun Ikat, Salah Satu Peluang Pasar di Lembata


Berbicara mengenai perekonomian rasanya masih minim, khususnya di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perekonomian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti tindakan (aturan atau cara) berokonomi. 

Sedangkan ekonomi adalah ilmu tentang asas-asas produksi, distribusi atau pemakaian barang-barang serta kekayaan (serperti hal keuangan, perindustrian dan perdagangan). 

Di Kabupaten Lembata, menurut data Humanity & Inclusion (HI) produk yang masuk dalam peluang pasar diantaranya, tenun ikat, kacang mete dan industri pertanian. Namun, kali ini penulis akan spesifik membahas mengenai tenun ikat. 

Berbicara mengenai tenun ikat, barang yang satu ini juga menjadi tren fashion anak muda beberapa tahun belakangan. Selain digunakan menjadi fashion, penggunaan tenun ikat merupakan salah satu cara mengampanyekan kerajian, identitas dan kearifan lokal dari suatu daerah. 

Daerah-daerah di Indonesia yang terkenal dengan tenun ikat di antaranya Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor. Biasanya, tenun ikat bakal diolah menjadi tas, sepatu, aksesoris, syal dan sarung handphone. Namun, sayang di Lembata masih memiliki kekurangan, yaitu marketing strategy atau strategi pemasaran. 

Dari informasi yang dihimpun oleh oranglembata.com beberapa masyarakat telah diberdayakan melalui tenun ikat ini. Produksi beberapa kali telah dilakukan, namun sayang, kurangnya pendampingan menghambat laju produksi tenun ikat. Padahal jika di pantau, peminat tenun ikat cukup banyak. 

Terlebih, di hari tertentu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan sekolah-sekolah di wajibkan menggunakan tenun. Jika kita berkunjung ke pasar-pasar di Kota Lewoleba, seperti Pasar Pada atau Pasar Lamahora berbagai motif tenun ikat dipajang. Seperti syal dan sarung. Harganya di patok mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. 

Harga yang cukup mahal dan tidak variatif membuat konsumen berpikir dua kali untuk membeli. Biasanya yang menjadi konsumen adalah pengunjung yang datang dari luar Pulau Lembata. Namun, kebanyakan dari mereka pun mencari tenun ikat yang sudah di variasikan menjadi tas, sepatu maupun aksesoris lainnya. 

Jika belajar dari daerah lain seperti di Kota Waiwerang, Adonara Timur, NTT tenun ikat asal daerahnya di kirim ke Pulau Jawa untuk di olah lagi menjadi tas dan sepatu. Setelah itu, barang di kirim kembali ke Waiwerang  untuk didagangkan. 

Kelemahannya adalah, harga barang akan dijual lebih mahal karena dipengaruhi oleh biaya transportasi. Nah, bagaimana? Kamu punya ide untuk memasarkan tenun ikat ini agar konsumen tertarik?? 

Author
Ayu Zanita
Penulis Editor

Ayu Zanita

You May Also Like