Pasar Barter Wulandoni

Lembata adalah sebuah pulau kecil di ujung kepulaun Flores yang dulunya disebut sebagai Pulau Lomblen, selain terkenal dengan berbagai budaya dan tradisinya, Pulau Lembata terkenal dengan tradisi penangkapan ikan paus di Desa Lamalera. Namun keunikan budaya dan tradisi di Kabupaten Lembata bukan cuma itu, pulau ini masih memiliki keanekaragaman lainnya yang patutu dikunjungi para wisatawan jika berkunjung ke pulau lembata. Misalnya Pasar Barter di Wulandoni, Ibu kota kecamatan Wulandoni di sebelah selatan pulau Lembata.

gambar oleh  http://www.lembatatourism.id/destinasi/pasar-barter-wulandoni

Pasar Barter ini merupakan tradisi turun temurun sejak jaman dulu sebelum manusia mulai mengenal uang sebagai alat pertukuran seperti sekarang ini. Jenis barang dagangan yang ditukarkan di tempat ini juga bervariasi. Umumnya barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari seperti beras, pasta gigi, pakaian, sabun madi dll akan ditukarkan dengan barang-barang hasil pertanian dan perikanan. Contohnya adalah daging ikan paus hasil tangkapan nelayan Desa Lamalera yang akan ditukarkan dengan sabun mandi, ubi-ubian, beras, jagung dll.

Dengan menggunakan sistem barter ini tentu akan berdampak pada tata cara tawar menawar barang yang akan ditukarkan. Menurut masyarakat setempat, dengan tradisi seperti ini tali kekeluargaan dapat terus terpelihara dengan baik. Komunikasi akan terus terjalin karena mereka tidak hanya sekedar membeli atau menjual. Sebuah proses tawar menawar yang unik akan terjadi saat proses pertukaran barang di Pasar Barter Wulandoni.

Keunikan lainnya adalah waktu buka pasar atau jam perdagangan. Seorang yang dipercaya sebagai tokoh masyarakat setempat akan meniupkan peluit sebagai tanda dimulainya waktu perdagangan atau tukar menukar. Hemm... sangat mirip dengan pasar saham yah.. heheh. Selain itu, Pasar ini hanya buka pada Hari Sabtu.

Hal ini terus dipertahankan sejak turun temurun dan secara umum dengan semakin modernnya dunia saat ini, tradisi pasar barter di Wulandoni akhirnya mulai dikenal banyak wisatawan. Seperti kembali ke jaman dahulu, kita dapat menyaksikan cerminan nenek moyang kita dahulu bertransaksi sebelum adanya uang sebagai alat pertukaran modern.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung kesana juga cukup mudah. Cukup menggunakan kendaraan darat sekitar 2 jam dari Kota Lewoleba menuju selatan. Dengan tarif angkutan umum sekitar Rp 75.000 per orang. Jika menggunakan kendaraan sewaan bisa disekitaran harga Rp 700.000 - Rp 1.000.000 per hari.


Author
Pito Keraf
Penulis Senior

Pito Keraf

You May Also Like