Beruntungnya Menjadi Orang Muda di Masa Ini


Saya memulai karir menulis di tahun 2016, di salah satu media lokal Kalimantan Utara (Kaltara). Saat itu saya berusia 18 tahun. Seperti pada tulisan saya sebelumnya, saya sering tidak yakin pada diri saya. Begitupun ketika saya belajar menulis. 

Saya kira saya akan gagal, gagal dalam menulis dan gagal dalam pekerjaan saya. Namun, perkiraan dan pembullyan terhadap diri saya itu meleset. Dalam kurun waktu setahun, saya merangkak naik. 

Saya menekuni profesi saya sebagai wartawan dengan baik. Menjaga relasi dengan narasumber, membuat berita-berita panas dan santun. Untuk momen ini saya berterimakasi kepada redaktur saya kala itu. 

Namun, dalam proses perjalanan saya hingga saat ini, banyak hal yang saya maknai sebagai peluang. Terlebih diusia saya yang masih belia. Peluangnya adalah mencoba. 

Terkadang mungkin saja, sebagian dari pembaca masih mempunyai rasa takut untuk mencoba. Namun, dalam proses mencoba itu ada istilah belajar kognitif. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kognitif diartikan sebagai yang berhubungan atau melibatkan kognisi. Sedangkan kognisi adalah kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. 

Istilah ini saya dapatkan ketika berdiskusi dengan rekan relawan. Artinya ketika kita berani mencoba, secara tidak langsung kita mengenali ilmu-ilmu baru dan hal baru tanpa harus membaca teori lebih dahulu. 

Dan saya harus akui bahwa belajar kognitif ini akan membekas dan membuat kita lebih berani menerima kesempatan baru. Namun, bagaimana caranya agar mendapat kesempatan untuk belajar. Kuncinya adalah membuka diri dan menunjukan power atau kekuatan pada diri kita. Kata lain adalah potensi.

Orang-orang tidak akan tau, tidak akan mengenal kita, jika terus-terusan diam dan tidak membuka diri. Kepercayaan diri perlu ditingkatkan, itu sebabnya kita perlu berkata pada diri sendiri "Kita bisa". 

Pada kesempatan diskusi yang lain, ada salah seorang rekan wartawan saya. Dia berusia 28 tahun kala itu. Dia menyatakan kepada saya. "Yu, saya menyesal tidak membuka diri saya sejak lama. Hal hasil banyak yang terlambat saya ketahui" 

Banyak hal yang lambat beliau ketahui artinya, ilmu dan pengalaman. Beliau baru sadar hal-hal seperti ini ketika melihat saya mampu bersaing dengan orang-orang yang lebih tua dari saya. 

"Kamu beruntung Yu, diusia yang masih muda sudah banyak pengalaman dan bisa menyeimbangkan hal-hal baru. Saya dulu seuisiamu masih suka bermain-main," ungkapnya kala itu. 

Hal menarik dari kalimat rekan saya ini adalah, kesempatan. Di masa sekarang, peluang belajar dan memanfaatkan masa muda cukup banyak. Beda dengan masa mereka, dimana peluang atau wadah untuk mengembangkan diri masih minim. 

Sehingga, di usia muda mereka lebih banyak difokuskan kepada hal-hal tertentu yang tidak banyak menyita pengelaman. Namun, kelemahan di masa ini adalah hanya sedikit orang yang berkeinginan memanfaatkan masa muda. 

Maka saya katakan, besar di masa sekarang ini adalah keberuntungan. Dimana, semua kesempatan terbuka tinggal orang muda mana yang mau untuk mencoba. Sampai disini saya benar-benar merasa beruntung karena menjadi perempuan yang punya potensi. 

Tetapi jangan salah, saya juga masih sering merasa takut ketika menghadapi hal baru. Tetapi rasa takut itu manusiawi. Ketika di lawan dengan mencoba maka semua akan kembali normal.

Saya menulis ini untuk mengajak orang-orang muda untuk bekreasi dan membuka diri agar potensi kita dapat dimanfaatkan oleh banyak orang. Semakin banyak kesempatan, semakin besar juga peluang untuk belajar. (***)



Author
Ayu Zanita
Penulis Editor

Ayu Zanita

You May Also Like