Hadiah Tahun Baru


Lewoleba, Desember 2019 

Malam ini hujan berbunyi 

Tak 

Tak 

Tak 

Re tak 

Menuju tanah 

**** 

Aku membaca puisi Theoresia Rumthe saat diluar sedang hujan. Sebelumnya, petasan berbunyi ddduuuaaarrr dilangit-langit atap rumahku. Kemudian sisa-sisa petasan itu jatuh ke genteng seng seperti pasir. 

Aku dengan baju putih, celana pendek berbaring santai sambil menggeser layar hp ku. Menunggu pesan masuk darinya. Hari ini kudapatkan kabar tak menyenangkan. 

Sebenarnya bukan hanya kali ini kudapati kabar dirinya bersama  wanita itu. Tapi, aku keras kepala dan terus berkompromi pada diriku kalau semua yang dilakukan manusia punya standar dan alasan. 

Menit berikutnya ku tunggu, tak juga ada pesan masuk. Ku cek story whatsapp ku, dia hanya mengintip empat deret story milikku. Ku tinggali hp ku. Ottakku mulai bepikir berkompromi. 

Sekitar pukul sebelas malam ku putuskan menghubunginya duluan. Bukan untuk bertengkar tetapi untuk memastikan tak ada beban yang dia pikul. Setidaknya meringankan jika dia tak merasa enak denganku paska kejadian dejavu ini.  

"Dirimu tidak mau bicara dengan ku" 

Ku kirim kan pesan kepadanya... 

"Ingin sekali" balasnya. 

"Ya, ceritakan apa yang terjadi. Aku tak apa-apa," jawabku

"Akan ku ceritakan jika semua urusanku telah selesai," ungkapnya lagi. 

Aku menghela napas. Setidaknya, ku kurangi  rasa tak enaknya kepada diriku malam ini. Bagi ku, berbaik kepada setiap yang menyakiti kita dan memaafkan adalah obat paling mujarab yang pernah ada. Makanya, setiap ada kesalahan aku mencoba memaafkan. 

Bukan karena aku bodoh. Mungkin juga seperti itu, tapi aku selalu menempatkan diriku pada posisinya. Mungkin saja aku akan melakukan hal tak terduga jika aku dihadapkan dalam persoalan rumit. 

Yang ku katakan, aku baik-baik saja adalah sebuah kebohongan ku padanya. Namun, setiap yang memilih mecintai tak cukup dengan melukai yang dicintai, tapi juga harus  sabar ketika dilukai yang dicintai. Begitu kata Gus Baha.. 

Yang tidak diketahuinya dari ku adalah, semua teman-teman kami menilai aku bodoh. Menyarankan aku untuk segera meninggalkannya karena kesalahannya. 

"Seharusnya kau sadar. Hubunganmu tak bisa dipertahankan. Kau mau berakhir dengan orang teledor seperti dia," begitu kata salah seorang temanku.

Aku tak merespon serius, hanya tersenyum lalu menjawab "Sudahlah. Tak perlu terlalu khawatir," jawabku menenangkan. 

Bagiku ini adalah proses, tak ada yang memulai sesuatu tanpa kesalahan.  Memilih tidak terlalu menanggapi masalah adalah caraku. Aku mengulang kejadian-kejadian dimasa kecilku ketika tak mendapatkan perhatian orang tua. Kataku pada diriku "Dulu sesulit apapun kondisiku, aku bisa melewati. Kenapa sekarang tak bisa. Sakit-sakit ini pasti ku tinggalkan," 

Aku pun percaya, hukum karma atau timbal balik tetap berlaku. Jika hari ini aku melakukan kesabaran dan memaafkan pasti yang kudapati sedemikian baik balasan-Nya. Aku tak ingin menjadikan persoalan ini beban untuknya, begitupun untukku. 

Ada satu hal yang membuatku bersemangat. Katanya dia memilihku, namun berikan dia waktu untuk berproses. 

"Aku memilihmu maka bersabarlah sedikit lgi. Semua baik-baik saja. Beri waktu agar semua diselesaikan dengan baik," katanya kala itu. 

Yang ku kompromikan pada diriku kali ini adalah kadang-kadang orang bertindak tanpa mengindahkan moral. Tapi mereka pasti memiliki semacam hati nurani, entah itu dimana. Jauh dalam jiwanya. Dan aku percaya dia pun demikian. 

Sehingga, sampe saat ini ku tutupi semua kesalahannya. Berharap pemikiran negatif orang terhadapnya berlahan dapat dihapus dan terbalaskan dengan hal baik. 

Aku mencoba tak membahas, walaupun kadang-kadang aku ingin. Namun, tetap kutunggui kapan saja dia ingin bercerita. Aku tak ingin mendesak. Apa lagi menekannya untuk sejalan dengan keinginanku. 

Dia pernah berkata "Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk dirimu. Walaupun kadang-kadang kau menilai aku tak adil dan jahat terhadapmu. Namun, semua akan terasa baik, mungkin tidak sekarang tapi nanti," 

Aku pun teringat seorang Penyair Sufi yang berkata "Tingkat tertinggi dari mencintai adalah ikhlas" 

Di tahun ini semua terasa luar biasa. Kehadirannya dan segalanya adalah berkah. Walaupun aku tak membahas, tapi aku menunggu ceritanya. Ceritanya nanti akan ku anggap sebagai hadiah tahun baru untukku. (***) 

Author
Ayu Zanita
Penulis Editor

Ayu Zanita

You May Also Like