Melawan Ketakutan

 Semua diantara kita pasti punya ketakutan bukan? Entah itu mengenai diri yang fobia akan sesuatu. Atau takut yang ditimbulkan atas perilaku orang lain kepada kita dalam suatu hal. Entah takut dibohongi, dilecehkan atau takut menghadapi kenyataan yang tidak sesuai ekspetasi. 

Pembahasan mengenai ketakutan bermula ketika saya dan teman membahas mengenai judul artikel "Menulis Perlu Dikritik Bukan Dipuji" yang lewat di time line akun facebook saya. Teman saya pun menyambut "Saya punya beberapa tulisan. Hanya saja malu kalau dibaca orang lain". 

Saya pun kemudian bercerita. Dipertengahan tahun 2016 saya memutuskan untuk menjadi jurnalist di salah satu media cetak grupnya Jawa Pos. Ketakutan terbesar saya pada saat itu adalah tulisan saya dikritik oleh pembaca. 

Dan ternyata tulisan saya dikritik hampir setiap hari. Didatangi oleh pembaca. Diprotes bahkan di caci maki. Namun, kondisi itu kemudian menjadi minim. Lambat laun, saya bisa mengatasi. Ketakutan itu menjadi kondisi yang "Sudah biasa". 

Dari kritikan itu kemudian saya giat memperbaiki tulisan. Bisa dibilang saya lolos. Tidak khawatir lagi tulisan saya dikritik. Namun, setelah ketakutan itu selesai, muncul ketakutan baru. Yaitu, saya tidak berani mengambil bobot berita berat. 

Saya adalah wartawan pemerintahan. Namun, sesekali nyasar ke kriminal. Beberapa kali menangani berita kriminal hanya sebatas kecelakaan lalutintas, narkoba yang beratnya tak sampai setengah kilo atau penyeludupan barang-barang ilegal atau menghimpun hasil rilis dari kepolisian, kejaksaan atau pengadilan.  

Namun, pada satu momen saya pernah dihadapkan dalam suatu persoalan yaitu penembakan bandar narkoba. Mau tak mau, saya mulai mencari tau persoalannya. Saya pantau dan terus melalukam wawancara dari berbagai pihak. Hingga pada akhirnya si bandar meninggal.

Dalam pengangkatan kasus ini, tak jarang saya mendapat ancaman-ancaman agar mencarian informasi tidak dilanjutkan. Namun, saya getol mengusut hingga tuntas. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa saya sedang melawan ketakutan saya walaupun sedang diancam. Karena kondisi ini yang sebenarnya saya takuti. 

Lagi-lagi tentu saja saya lolos dalam ketakutan saya ini. Walaupun diancam tentunya. Akhirnya saya teringat kata orang-orang bijak "Agar tak menjadi penakut, maka ketakutan itu, harus dihadapi". 

Dalam praktik kehidupan dan masalah pribadi melawan ketakutan dapat diterapkan. Ketika kita takut mencoba sesuatu karena tak bisa, padahal tak menutup kemungkinan hasilnya memuaskan  dan tak ada salahnya dicoba. 

Ketakutan lainnya adalah, kita takut jika kita dibohongi, di jahati atau orang lain berperilaku jahat terhadap kita. Namun, yang seharunya kita sadari adalah orang yang berbohong dan berperilaku tidak adil terhadap kita adalah pilihan mereka untuk menjadi jahat. 

Yang harus dipersiapkan kita adalah, kemungkinan terburuk dan berani melawan ketakutan itu. Kata ulama konteporer "Ketika orang lain berbuat jahat maka seharusnya kita tetap rendah hati dan bersikap baik" 

Makna dari pesan ini adalah lawan ketakutan itu. Walaupun kita sakit hati, kecewa bahkan sampai punya penyakit hati. Ketakutan kita adalah rasa sakit kita sendiri. Maka bagaimana kita bijaksana melawan sakit hati itu. Selalu diingat jika kita wajib berbuat baik antar sesama. 

Bagaimana? Sudah berani melawan rasa takut?? 


Author
Ayu Zanita
Penulis Editor

Ayu Zanita

You May Also Like