Rencana Tak Kokoh

Diam-tenang adalah bahasa Tuhan,

segala yang lainnya adalah terjemahan buruk


- Maulana Jalaluddin Rumi -

**** 

Malam ini dalam tidurku, aku terbayang-bayang yang telah kulihat. Mataku tertutup namun tak sampai pada rapid eye movement. Hanya ditahap awal, orang biasa menyebut tidur-tidur ayam. 

Ku bolak balikan badan seperti telur dadar yang menunggu giliran dimatangkan. Kewalahan aku menangani pikiranku, tubuhku, rohku segala pada diriku, lantaran kejadian hari ini. 

Pagi ini dari kejauhan, ku pandangi perempuan tersenyum pada lelaki itu. Berjalanan beriringan bersama, sesekali membuntuti tapak kakinya seperti anak ayam yang takut kehilangam induk. Sesekali juga dia duduk disamping lelaki itu seperti pengantin baru menyambut tamu yang ingin bersalaman. Memamerkan kepada khalayak jika dia adalah pasangan lelaki itu. 

Seseorang dari belakang memegang pundakku kemudian bertanya. 

"Kau tak apa-apa". 

"Iya tak apa-apa. Apa lagi yang harus di kerjakan". Jawabku mengalihkan agar tak ada pertanyaan selanjutnya. 

Ku palingkan pandanganku darinya dan perempuan itu. Berpindah tempat melayani orang-orang. Sesekali aku duduk dengan kawan agar menghilangkan raut muka kecewa, marah dan sedih. Ku stabilkan emosiku jangan sampai pecah. Jangan ketahuan terselip sakit dalam hatiku yang kemudian, membuatnya dinilai tak baik. 

Pikiranku masih berkompromi, mencari pembenaran jika lelaki itu masih punya hati nurani untuk memikirkan ku. Apa yang ku lihat hari ini bukan sebenarnya. 

"Dia pasti punya alasan," ungkapku dalam hati meyakinkan. 

Pukul satu dini hari, ponselku bergetar. Bertanda pesan masuk. Ku raih ponsel disamping pembaringan. Ku geser layar ponselku. Rupanya ada pesan dari lelaki setengah abad itu.

"Belum tidur," tanyanya. 

"Belum," jawabku singkat. 

Tak ada jawaban lagi. Pesanku tak terbaca. Mungkin dia sudah menuju tahap tidur. Dan aku masih tetap sama, seperti telur dadar. 

Pukul dua dini hari dia membalas singkat pesanku. 

"Tidurlah segera," 

Tak ku tanggapi, aku masih terjaga dengan segala pikiranku pagi ini. Walaupun pagi ini aku tau dia beberapa kali mencuri pandang kepadaku. Mungkin memastikan aku baik-baik saja dengan keberadaan perempuan itu. 

Ingin ku jawab pandangannya kala itu, bahwa aku tidak baik-baik. Namun, demi ketentraman hatinya ku tahan segala gunda dan rasa cemburuku. Ku telan paksa pilu ku. Tak ku serahkan segala sesak dadaku pada orang lain.

Beberapa bulan lalu, ketika ku tau orang tuanya tak menyetujui hubungan kami  dan memilih dia dengan perempuan yang pagi ini bersamanya, dia berkata. 

"Pergilah keluar kota sebentar untuk tenangkan hatimu. Semua akan baik-baik saja. Banyak bersabar, sebentar lagi," kiriman pesan singkatnya lewat whatsapp.

Tak banyak bicara aku setelah kejadian pagi ini. Tak kusinggung pula apa yang terjadi. Ku iklaskan segala situasi pada yang Maha. 

"Perempuan tangguh adalah mereka yang bertahan dan bisa melewati masalah. Kau hebat. Kau perempuan hebat," katamu kala itu. Masih teringat jelas. 

Tak kunjung pulas, ku ingat syair Rumi yang berbunyi "Tingkat tertinggi mencintai adalah iklas". 

Ku lanjutkan membuka layar ponsel, ku buka syair Rumi yang lain "Diam-tenang adalah bahasa Tuhan, segala yang lainnya adalah terjemahan buruk" 

Ku pandangi syair ini berulang kali. Diamku adalah rasa sakitku yang amat. Namun, bahasa-bahasa Tuhan ini menjadikan ku mandiri dan mengurangi bebanmu. Tak ku ungkit lagi, tak akan lagi. Jika waktu telah tiba, mungkin katamu semua baik-baik saja akan terjadi. Jika tidak, cukup ku tau kau pernah berkata "Aku cinta padamu". Dan kalimat itu untukku.

Ku baca syair itu berulang kali. Sampai terkantuk. Lalu aku mencoba iklas. Sebesar itu cintaku padamu. Semoga kau tau... (***) 



Author
Ayu Zanita
Penulis Editor

Ayu Zanita

You May Also Like