Pieter Keraf Dalam Lingkup Keluarga


Berpulang ke hadapan Tuhan, Drs. Petrus Boliona Keraf tentu menyisahkan duka yang mendalam. Tak hanya keluarga namun juga untuk masyarakat Lembata. Lalu, bagaimana sosok dibalik mantan Pejabat Bupati Lembata tahun 1999-2001 ketika berada dalam lingkup keluarganya. Simak ulasan berikut. 

AYU ZANITA/oranglembata.com 

Selasa (7/1) langit tanah Lembata mendung, kadang rintik hujan satu-satu membahasahi jalan. Sekitar pukul 08.30 Wita, kabar duka didatangkan oleh keluarga Drs. Petrus Boliona Keraf.  Sang Guru telah menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. W.Z Yohanes Kupang. 

Tak mematahkan momen, penulis pun bergerak ke kediaman lelaki yang akrab di sapa Pieter Keraf itu. Kerabat, rekan dan tetangga mulai berdatangan menyampaikan bela sungkawa terhadap keluarga yang ditinggalkan. 

Lelaki kelahiran Lamalera, 78 tahun lalu itu memulai karirnya menjadi guru. Hingga ketekunan dan kebaikannya membawa nasip Pieter Keraf ke dunia politik. Namun, dibalik ketegasannya dalam mempimpin, Pieter Keraf dalam lingkup keluarganya adalah sosok bapak yang mengayomi dan terbuka. 

Penulis pun mencoba membangun komunikasi dengan salah satu anaknya. Beliau adalah Pito Keraf, anak bungsu dari almarhum. Tak membuang banyak waktu, penulis pun memulai pertanyaan untuk menguak sosok sang bapak. 

Diceritakan Pito, usai pensiun beberapa tahun lalu orang tuanya ini tak lagi fokus ke dunia politik. Walaupun beberapa kali kerap di ajak berdiskusi oleh segelintir orang. Pieter Keraf lebih sering menghabiskan  waktunya untuk bermain dengan cucu dan memperhatikan anak-anaknya. 

"Bapak sangat kelihatan ingin melihat anak-anaknya sukses dan lebih sering bermain bersama cucu-cucunya," ungkap Pito. 

Tak cukup disitu. Pito pun melanjutkan ceritanya mengenai sang bapak dalam hiruk pikuknya suasana duka. Dalam ingatan-ingatan yang dibangun ulang oleh Pito dia mengatakan, jika sang bapak tidak pernah mengekang anak-anak dalam pilihan mereka. 

Asas-asas kebebasan dijunjung tinggi oleh sang bapak, kemudian di terapkan dalam lingkup keluarganya. Hal lain yang menarik adalah, sang bapak juga konsisten terhadap ide-idenya dan selalu mengajarkan kepada anaknya untuk bekerja keras. 

"Bapak sangat open. Beliau memberikan  kebebasan anak-anaknya untuk memilih apa yang mereka inginkan. Bapak kalau punya ide  maka beliau akan berupaya untuk mewujudkan itu. Selain kerja keras, bapak juga mengajarkan anak-anak untuk semangat dalam bekerja," papar lelaki bermata sipit itu. 

Tak hanya itu mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lembata Periode 2004 - 2009 ini merupakan sosok yang peka terhadap kondisi anak-anaknya. Pieter Keraf kerap memberikan masukan dan dukungan kepada anaknya ketika melihat mereka gagal. 

Mendidik anak tentu tak lepas dari peran sang Istri Maria Yasintha Keraf-Lay. Ketika berada di rumah dan mengahabisi masa tua,  Pieter Keraf kerap berdiskusi dan berncanda ringan dengan istrinya. 

"Terutama mama yang lebih sering nonton youtube lalu bercerita tentang berita2 terkini kepada bapak," tambah Pito. 

Tidak sampai disitu, Pito nampak mengembalikan ingatannya mengenai kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orang tuanya itu. Pito Bercerita, ketika bangun dipagi hari sang bapak sudah duduk di teras rumah. 

Tak hanya sekadar duduk-duduk, biasanya  dimeja depan sudah di sajikan kopi dan pendampingnya seperti kue atau biskuit oleh sang mama. Laiknya,  manusia pada umumnya yang menikmati  suasana pagi. Sang bapak mengopi santai sambil bercengkerama dengan tetangga yang lewat di teras rumah mereka. 

"Kebiasaan lain dari bapak yang saya ingat jelas adalah, bapak selalu berusaha untuk pergi ke greja," sahutnya. 

Sebelum kembali pada yang empunya hidup Pito berkata, sang bapak berusaha melawan rasa sakitnya. Sang bapak, terus berupaya melalukan segala sesuatu sendirian. 

"Karakter pemimpin yang dapat ditiru dari beliau itu tegas dan bisa memaafkan orang lain. Para politikus yang dulu sempat menyusahkan dan menghujat, bapak maafkan. Saya kira itu yang dapat ditiru kita semua," pungkas Pito. (***)

Author
Ayu Zanita
Penulis Editor

Ayu Zanita

You May Also Like