Hujan Februari


Tik tik tik

.

.

.

Rintik hujan yang menyerang atap kali ini terdengar seperti kerikil, bulirnya lebih besar dari biasanya. 

Ini hujan pertama dalam Februari sejak tiga minggu tak membahasahi tanah, tak membasahi penutup rumah-rumah penduduk kota. 

Ku pasang telinga dengan saksakma mendengarkan air tuhan yang turun. 

Terdengar, sesekali hujan seperti menggretak hanya grimis-grimis manis. 

Kadang, dia menyerang seolah-olah marah dan membalas kerinduaan pada seng rumah, aspal jalan, tanah kering dan rumput yang hampir mati.

Dari ujung laut terdengar gemuruh guntur bersahut, memberikan pengumuman hujan telah datang. 

Memberikan tanda bahwa yang dirindukan telah pulang. Seperti bapak yang berjalan mendekati pintu rumah disambut riang oleh anak-anaknya. 

Akhirnya bulan ke dua dalam tahun masehi ini disambut hujan. Selamatlah hewan ternak yang merindukan rumput segar. 

Selamatlah, rumput-rumput yang tak tumbuh karena tak ada air. Selamatlah penghuni kota yang mengeluh di story whattsapp karena kepanasan. 


Author
Ayu Zanita
Penulis Editor

Ayu Zanita

You May Also Like