Tak Ada Judul


Di bawah tunggang gunung yang merekah aku berkata pada kawanku. "Kau tau Mar, sebagai manusia kita tak pantas untuk dibohongi," 

Marni adalah kawanku, dia baru ditinggal kekasihnya. Mereka menjalin kasih cukup lama. Melakukan segala hal bersama-sama, harmonis dan dikagumi banyak orang sebagai pasangan yang serasi. 

Namun sayang, asmaranya tak berjalan dengan baik. Kekasihnya, pergi meninggalkan Marni demi perempuan lain. Lalu, Marni tak berhenti bersedih. Bukan karena dia tak menerima bahwa kekasihnya telah mendua, melainkan kenyataan bahwa dia dibohongi sejak lama. 

Marni menoleh ke arahku. "Apa maksudmu," tanyanya penasaran. 

Aku tak menjawab. Aku memandangi tunggang gunung yang hilang berlahan-lahan diikuti Marni yang mengguncang pundakku dan terus bertanya apa maksudku. Aku masih diam. Tak merespon.

Angin sepoi-sepoi mengibas sehelai dua helai rambut ke mukaku. Marni menyerah dan menghela napas sambil bertkata "Kenapa orang-orang begitu jahat,"

"Itu pilihan Mar," jawab ku. 

"Apa lagi sekarang maksudmu," tanya Marni lagi. 

"Menjadi baik dan jahat adalah pilihan orang. Kau tidak bisa mengendalikannya, Mar. Sama ketika, kau memilih memasak mie instan untuk mengenyangkan perutmu ketimbang, mengolah sayur dan ikan yang sehat untuk kau santap. Jika menjadi jahat adalah hal yang instan bagaimana orang-orang tak tergiur," 

Marni diam, ku pandang wajah kawanku yang cantik itu. Si gadis, sedang mencerna apa yang aku katakan. 

"Tapi kau tau, hal-hal instan belum tentu baik," sambungnya. 

"Maka dari itu, kau tak perlu selarut ini dalam kesedihanmu, jika kau paham dia mendapatkan orang yang instan," lanjutku.

Marni menghela napas panjang sekali. Aku tau hal ini tak mudah baginya. Namun, aku percaya Marni bisa melewati hal sulit ini. Dia hanya butuh waktu untuk menyembuhkan hati dan menghilangkan jejak lelaki itu dalam otaknya, berlahan. 

Tiba-tiba marni terisak. Aku tak menegurnya untuk berhenti. Itu adalah ekspresi kesakitan. Maka, ku biarkan dia seperti itu sambil ku usap-usap pundaknya yang naik turun. 

"Lalu, bagaimana kau bisa melewati rasa sakitmu waktu kekasihmu pergi dengan wanita lain," tanya Marni kepadaku. 

"Aku tak membiarkan dia berbohong. Aku tau bahwa dia mengencani perempuan lain," 

Marni berpaling cepat-cepat. Ekpresi tak menyangka kudapati dalam raut wajahnya. Dia menyeka jejak kesedihan dari wajahnya dan memandangku lekat-lekat.

"Apakah kau serius," tanya Marni masih dengan sisa air matanya. 

"Ya," jawab ku singkat. 

"Bagaimana bisa kau membiarkan itu," lanjut Marni.

"Seperti yang ku katakan tadi Mar. Sebagai manusia kita tak pantas untuk dibohongi. Maka aku berusaha untuk membuatnya jujur," jelasku.

Bagi ku, karena manusia mempunyai hak atas dirinya, maka mendapatkan kejujuran juga harus menjadi prioritas. Aku tak tau pandangan orang lain seperti apa. Namun, semua makluk Tuhan yang tercipta sebagai manusia wajib untuk jujur, apapun alasannya. 

"Lalu kenapa kau memilih mengakhiri hubungan kalian," tanya Marni untuk kesekian. 

"Karena dia melakukan hal yang sama terus menerus. Aku tak mau berjalanan ditempat Mar. Aku ingin bertumbuh, termasuk mengenai hubunganku. Bagaimana aku bisa bertumbuh, jika dia berbohong terus menerus," 

"Dan kebohongan itu, aku pahami menjadi pilihannya. Dia memilih menjadi jahat kepada ku. Sehingga, aku memilih mengakhiri segalanya," pungkasku. 

Marni terdiam. Dia berhasil mencerna apa yang aku katakan. Usai tunggang gunung tak tampak lagi diujung pantai yang kami duduki saat ini, Marni kembali ke rumahnya dengan penuh energi. Dia membuang isak-isaknya dalam debur ombak yang membawa ke tengah laut. Lalu, tenggelam. (***) 


Author
Ayu Zanita
Penulis Editor

Ayu Zanita

You May Also Like