Tak Hanya Legenda, Lamalera juga Memiliki Peninggalan Bersejarah



Menurut peneliti dari Australia Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona, orang Lamalera yang terdiri dari kelompok-kelompok komunitas kekerabatan suku dan marga, bukan dari penduduk asli Pulau Lembata. Asal-usul orang lembata dapat dilacak dari benda peninggalan sejarah dan dan syair (folkolore) yang diwariskan secara turun temurun ke generasi berikutnya hingga kini.

Dalam syair yang di sebut Lia asa usu (syair asal-usul), yang di nyanyikan pada acara adat kebesaran. Syair ini mengisahkan perjalanan nenek moyang suku-suku induk di Lamalera mulai dari tanah Luwuk hingga mencapai selatan Pulau Lembata dan kemudian menetap.

Sebelum mereka mencapai Pulau Lembata terlebih dahulu mereka mengikuti perjalanan armada Patih Gajah Mada menuju perairan Halmahera, dan sampai Irian Barat, kemudian mereka memutar haluan ke arah selatan menyinggapi Pulau Seram, Pulau Grom, lalu ke Ambon, ke kepulauan Timor dan akhirnya mendarat di Pulau Lembata.

Berdasarkan info yang dikumpulkan dari bpcb bali, peninggalan itu dapat pula dilacak bahwa orang Lamalera berasal dari Luwuk Sulawesi Selatan. Kepindahan mereka dari Sulawesi Selatan dilatarbelakangi oleh adanya serangan penaklukan kerajaan yang ada di Sulawei oleh Majapahit semasa pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Kelompok yang pindah inilah yang menjadi cikal bakal komunitas lima suku-suku/ marga orang Lamalera yaitu suku Batona, Blikolollo, Lamanundek, Tanakrofa dan Lefotuka. Setelah menetap mereka membangun sistem kekerabatan dan desa nelayan dan terus bertahan hingga saat ini.

Menjadi nelayan, mencari dan menangkap ikan di laut adalah mata pencaharian utama dari masyarakat Lamalera. Tradisi ini diwariskan oleh leluhur sejak dahulu kala, ciri khas sebagai nelayan masyarakat Lamalera sangat berbeda dari nelayan lain dan termasuk sangat langka yaitu mereka mengkhususkan diri menangkap ikan yang besar terutama paus. Ciri khas tersebut kemudian menjadi tradisi turun temurun hingga saat ini.

Masyarakat Lamalera tidak hanya menangkap paus begitu saja namun mereka terikat oleh aturan adat tertentu yang dipegang teguh oleh masyarakat Lamalera. Mulai dari tata cara pembuatan perahu untuk mengkap ikan paus, tata cara penyimpanan alat-alat untuk menakap ikan paus, sampai pada proses ke laut dan pembagian hasil tangkapan. Di dalam tata cara tersebut ada aturan-aturan dan tindakan yang harus di ikuti sekaligus pantangan atau larangan-larangan yang harus dihindari.

Tidak hanya sebatas keindahan alam dan adat istiadat/tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Lamalera yang menjadi daya tarik wisata. ternyata Kampung Lamalera juga menyimpan beberapa tinggalan benda-benda bersejarah dari masa kolonial, baik dari masa Portugis, dan Belanda. Peninggalan tersebut adalah lonceng, meriam, dan rumah jaga Belanda.

Author
Pito Keraf
Penulis Senior

Pito Keraf

You May Also Like